Tiga Kandidat Siap Bertarung dalam Pemilihan Ketua LAM Bintan 29 Mei, Tokoh Adat Serukan Pilih Pemimpin yang Bermartabat dan Paham Adat
Table of Contents
ZONANESIA.WEB.ID ,Bintan, Kepri — Pemilihan Ketua Lembaga Adat Melayu (LAM) Kabupaten Bintan dijadwalkan akan digelar pada 29 Mei 2025 mendatang di Gedung LAM Bintan, Kijang Kota. Agenda lima tahunan ini menjadi momen sakral dalam regenerasi kepemimpinan adat, yang tidak hanya berperan menjaga tradisi dan budaya, tetapi juga menjadi penjaga moral masyarakat Melayu di tanah Bentan.
Tiga tokoh adat terkemuka resmi mencalonkan diri dalam pemilihan tersebut, yakni Datok Bahri, Ahmadi Buang, dan Sahri Bobo. Ketiganya dikenal memiliki latar belakang adat yang kuat serta rekam jejak yang aktif dalam pelestarian budaya Melayu.
Menjelang pemilihan ini, Ketua Perkumpulan Zuriat Bentan, Muhammad Ali, menyampaikan imbauan terbuka kepada seluruh masyarakat adat, khususnya para pemangku adat seperti Dato-dato, Cik-cik, Tuan-tuan, dan Puan-puan, untuk menggunakan hak pilih dengan bijak dan penuh tanggung jawab terhadap masa depan adat.
“Jangan sekadar memilih karena kedekatan pribadi atau pengaruh luar. Pilihlah calon yang betul-betul bersih dari praktik KKN, paham adat, dan memiliki jiwa kepemimpinan. Pemimpin adat bukan hanya simbol, tapi penjaga nilai-nilai luhur Melayu,” ujar Muhammad Ali, Jumat, 9/5/2025.
Dalam pesannya, Muhammad Ali juga menekankan bahwa calon Ketua LAM harus memiliki pengetahuan mendalam tentang adat istiadat Melayu.
"Salah satu contohnya, dalam prosesi adat seperti menepuk tepung tawar, harus tahu siapa Dato Empat dan Yang Lapan. Ini bukan hanya tradisi, tapi warisan nilai yang harus dijaga dengan benar,” tegasnya.
Tokoh adat Bentan, Datuk Huzrin Hood, turut memberikan pernyataan bahwa pemilihan Ketua LAM harus dilandasi oleh niat luhur dan semangat menjaga marwah budaya. Ia mengingatkan bahwa pemilihan tidak boleh diarahkan secara terbuka ke publik untuk memilih calon tertentu, karena dapat mencederai nilai netralitas dan kearifan lokal.
“Adat dan agama harus menjadi penuntun. Jangan sampai pemilihan ini menjadi ajang politik kekuasaan yang mengabaikan nilai moral dan etika adat,” katanya.
Muhammad Ali menambahkan, masyarakat harus memahami bahwa LAM bukan lembaga politik, melainkan rumah besar budaya Melayu yang menjaga keseimbangan sosial, moral, dan spiritual di tengah masyarakat.
“Kita sedang memilih penjaga warisan, bukan sekadar pengurus organisasi. Maka dari itu, siapa pun yang terpilih nanti harus kita dukung bersama untuk menjaga nilai dan jati diri Melayu Bentan,” tuturnya.
Pemilihan Ketua LAM ini diharapkan menjadi momentum kebangkitan kembali adat istiadat di tengah tantangan modernisasi. Pemimpin adat yang terpilih nantinya harus mampu menjadi jembatan antara generasi tua dan muda dalam pelestarian nilai budaya.
Muhammad Ali pun menutup seruannya dengan kutipan sastra Melayu yang menggugah kesadaran kolektif:
“Ayahanda Hang Tuah pernah bermimpi bulan purnama jatuh di dahi, sejarah Bintan jangan dikelabui untuk bekal anak cucu kami.”
Kalimat ini menjadi pengingat bahwa pemilihan ini bukan semata urusan hari ini, melainkan warisan untuk masa depan generasi Bintan. Harapan besar disematkan kepada masyarakat adat agar dapat memilih dengan hati dan pikiran yang jernih, serta tetap menjunjung tinggi marwah dan martabat budaya Melayu.
(Redaksi/Kontributor).
#lam #daerah #bintan #kepri
Posting Komentar