Penonton STQH Kepri Kecewa: Tak Dapat Konsumsi, Transparansi Anggaran Dipertanyakan
Table of Contents
Tanjungpinang, Zonanesia.web.id – Sejumlah penonton Seleksi Tilawatil Qur’an dan Hadits (STQH) tingkat Provinsi Kepulauan Riau yang digelar di Tanjungpinang menyampaikan kekecewaannya karena tidak mendapatkan konsumsi selama perhelatan berlangsung. Keluhan ini mencuat meski acara tersebut diketahui mendapat alokasi anggaran miliaran rupiah dari Biro Kesejahteraan Rakyat (Kesra) Pemerintah Provinsi Kepri.
Acara berlangsung di Tanjungpinang dan keluhan mencuat sejak pembukaan STQH hingga Rabu (25/06/2025), terutama dari masyarakat yang datang langsung untuk menyaksikan jalannya lomba dari tribun penonton.
Salah seorang penonton asal Batu 15 mengungkapkan rasa kecewanya karena tidak mendapatkan snack ataupun air minum dari panitia.
"Kami datang jauh-jauh dari Batu 15 demi menyaksikan acara keagamaan ini. Tapi sesampainya di lokasi, tidak ada konsumsi sama sekali. Hanya panitia dan para pejabat yang dapat. Kami masyarakat hanya jadi penonton, tapi tak dianggap," ujar warga tersebut dengan nada kesal.
Keluhan serupa juga diungkapkan oleh seorang ibu rumah tangga yang datang bersama anak-anaknya sejak sore hari.
"Kami duduk berjam-jam di tribun. Anak-anak sudah kehausan. Bahkan air minum pun tak disediakan untuk penonton. Ini sungguh mengecewakan," ujarnya kepada wartawan Zonanesia.web.id.
Berapa besar anggaran yang terlibat?
Berdasarkan informasi yang beredar, kegiatan STQH tersebut mendapat dukungan anggaran mencapai miliaran rupiah yang bersumber dari APBD Provinsi Kepri melalui Biro Kesra. Anggaran tersebut dikabarkan mencakup akomodasi, konsumsi, logistik hingga biaya teknis penyelenggaraan.
Namun, realisasi di lapangan menuai sorotan karena diduga tidak menyentuh masyarakat umum yang turut hadir dan berperan aktif menyemarakkan acara tersebut.
Menanggapi hal ini, Asosiasi Keluarga Pers Indonesia (AKPERSI) Provinsi Kepri melalui Divisi Kominfo, Kariawanisia, turut bersuara.
"Kami mendesak agar dilakukan audit terhadap penggunaan anggaran STQH ini. Dana yang besar seharusnya dikelola secara transparan dan adil. Jika penonton saja tidak diperhatikan, bagaimana dengan pos-pos lainnya? Ini uang rakyat, jangan sampai hanya segelintir pihak yang menikmati," tegas Kariawanisia.
Tim lapangan telah mencoba menghubungi pihak Biro Kesra Provinsi Kepri untuk konfirmasi resmi melalui sambungan telepon. Namun hingga berita ini diturunkan, belum ada tanggapan maupun pernyataan resmi dari pihak terkait.
Apa harapan publik?
Masyarakat dan beberapa tokoh berharap agar DPRD Provinsi Kepri segera turun tangan untuk memanggil pihak-pihak terkait dan meminta pertanggungjawaban atas dugaan ketimpangan distribusi konsumsi dan potensi ketidaksesuaian penggunaan anggaran.
Acara keagamaan seperti STQH, yang seharusnya menjunjung tinggi nilai keadilan, keterbukaan, dan pelayanan kepada umat, justru dinodai oleh keluhan publik yang merasa diabaikan.
Catatan redaksi: Zonanesia.web.id akan terus mengawal isu ini dan membuka ruang klarifikasi dari pihak panitia pelaksana maupun instansi terkait.
----
Reporter: Kariawanisia
Editor: Redaksi Zonanesia.web.id
Posting Komentar