VIRAL! Penilaian Festival Kereta Hias Karimun Disorot, Peserta Bongkar Dugaan Ketidakprofesionalan Juri

Table of Contents

Kabupaten Karimun | Zonanesia.web.id – Aroma kekecewaan menyelimuti ajang Festival Kereta Hias, Lampu Colok, dan Lampu Elektrik dalam rangka Idul Fitri 1447 H. Harapan akan penilaian yang adil dan objektif justru berujung polemik.
Sejumlah peserta mulai angkat suara, bahkan secara terbuka mempertanyakan integritas penjurian yang dinilai tidak profesional.

Sorotan tajam mengarah kepada Dinas Pariwisata Kabupaten Karimun yang diketahui baru pertama kali menjadi panitia dalam penyelenggaraan festival ini. Sebelumnya, ajang serupa dikenal berada di bawah koordinasi Kementerian Agama Kabupaten Karimun.

Keputusan Janggal?
Kekecewaan peserta memuncak setelah hasil penilaian diumumkan. Mereka menilai, pemenang yang ditetapkan justru tidak mencerminkan kualitas penampilan di lapangan.

Beberapa peserta mengungkapkan bahwa salah satu kereta hias yang keluar sebagai juara mengalami kendala teknis serius, seperti lampu yang kerap mati saat parade berlangsung.

“Kami tidak mengharap juara, tapi ini soal keadilan. Yang tampil maksimal dari awal sampai akhir justru kalah dengan yang bermasalah di jalan,” ungkap salah satu peserta dengan nada kecewa.

Pernyataan ini memicu tanda tanya besar: apakah standar penilaian benar-benar diterapkan secara konsisten?

Dugaan Minim Transparansi
Tak hanya soal hasil, peserta juga menyoroti minimnya transparansi dalam proses penjurian. Kriteria penilaian dinilai tidak disampaikan secara terbuka, sehingga memunculkan spekulasi di kalangan peserta.

Beberapa bahkan mulai mempertanyakan kemungkinan adanya faktor non-teknis yang memengaruhi hasil akhir.
Meski belum ada bukti konkret terkait dugaan tersebut, gelombang kekecewaan ini menjadi sinyal kuat bahwa kepercayaan peserta terhadap panitia mulai goyah.

Panitia Baru, Masalah Baru?
Fakta bahwa tahun ini penanganan festival beralih ke Dinas Pariwisata turut menjadi perhatian. Perubahan ini dinilai sebagian peserta sebagai salah satu faktor yang memicu perbedaan dalam kualitas penyelenggaraan, khususnya pada aspek penjurian.

Perbandingan dengan tahun-tahun sebelumnya pun tak terhindarkan, di mana festival dinilai lebih kondusif dan minim polemik.

Ancaman untuk Masa Depan Festival
Festival ini bukan sekadar perlombaan, melainkan simbol budaya dan kebersamaan masyarakat. Namun, jika polemik seperti ini terus terjadi, bukan tidak mungkin antusiasme masyarakat akan menurun drastis.

Kepercayaan publik adalah fondasi utama. Sekali runtuh, akan sulit untuk dipulihkan.

Desakan Evaluasi Terbuka
Peserta kini mendesak adanya evaluasi menyeluruh terhadap sistem penjurian. Mereka meminta panitia dan pihak terkait untuk:

• Membuka kriteria penilaian secara              transparan
• Menjelaskan dasar penetapan pemenang
• Menjamin independensi dan                          profesionalisme juri

Jika tidak, festival yang seharusnya menjadi kebanggaan daerah berpotensi berubah menjadi ajang penuh kontroversi.
Zonanesia mencatat, hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak panitia terkait polemik yang berkembang di kalangan peserta.

Posting Komentar